Stikom
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Lifestyle » 9,8 Persen Remaja di Bali Alami Gangguan Mental

9,8 Persen Remaja di Bali Alami Gangguan Mental

(394 Views) Mei 20, 2019 9:33 am | Published by | No comment


Jumpa pers Kindnetic 2019 dengan tema “Show Who You Really Are”, Senin (20/5/2019) di Kubu Kopi Renon.

Denpasar (SpotBaliNews) –
9,8 persen remaja di Bali mengalami gangguan secara emosional. Tertinggi di Buleleng yakni 2,59 persen. Sedangkan secara nasional 9 dari 1.000 remaja berusia di bawah 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.

Demikian dikatakan Ida Ayu Saraswati Indraharsani dari BSS (Bali Soul Society) dalam jumpa pers Kindnetic 2019 dengan tema “Show Who You Really Are”, Senin (20/5/2019) di Kubu Kopi Renon. Jumpa pers digelar Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unud bekerja sama dengan BSS.

Dikatakan remaja yang datang ke psikolog umumnya memiliki masalah emosi karena tidak percaya diri dan keyakinan akan kemampuan dirinya.
Sosial media juga pengaruhi mental tergantung masing-masing individu.

Hal senada juga disampaikan Galang dari BSS yang mengatakan 3,7 persen warga Denpasar berusia di atas 15 tahun alami gangguan mental emosional. Untuk Bali sendiri sekitar 4 ribu persen warga tercatat ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), tertinggi di Tabanan sekitar seribuan.

Kindnetic 2019 merupakan kampanye kesehatan mental yang berfokus pada upaya peningkatan rasa percaya diri. Gerakan ini digagas mahasiswa llmu Komunikasi FISIP Unud Angkatan 2016 dan berkolaborasi dengan Bali Soul Society (BSS).

Kampanye mengangkat tema ”Show Who You Really Are” dengan sasaran utama remaja berusia 12-20 tahun. Rentang usia tersebut dipilih mengingat rentannya kelompok usia ini terhadap gangguan mental emosional. Penelitian lembaga Riskesdas Kemenkes RI pada 2018 menunjukkan 9 dari 1.000 penduduk berusia di bawah 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.

Pada usia 12-20 tahun individu memasuki fase pembentukan identitas diri. lndividu dengan identitas diri ‘belum jelas’ cenderung tertekan dan mengamini bermacam stigma negatif yang dilekatkan padanya.
”Kindnetic 2019 hadir sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkan rasa percaya diri bagi remaja khususnya di Bali,” ungkap Oning Widiyanti selaku Project Manager Kindnetic 2019.

Guna mencapai tujuan gerakan ini, penyelenggara melakukan kampanye online, sosialisasi lee sekolah-sekolah, free consultation, dan special event. Kampanye online dilakukan melalui akun lnstagram @Kindnetic2019 sejak 15 April 2019. Sosialisasi ke sekolah-sekolah (Kind Goes to School) telah dilaksanakan di tiga sekolah. Sementara free consultation, yakni sesi konsultasi gratis bersama psikolog dilaksanakan sejak 5 Mei 2019.

Acara akan dirangkai dengan live music, stand up comedy, dan fashion show oleh modeI-model pilihan yang diharapkan dapat menyampaikan pesan kampanye. Ada pula kemeriahan lain berupa Wall of Y-our Art, Kindnetic Tree, dan Same Point. Sebagai penutup, pengunjung akan dihibur oleh penampilan Nosstress.

Kindnetic 2019 akan dilaksanakan pada Minggu, 2 Juni 2019 di Garden Groove, Renon, Denpasar, pukul 15.00 Wita. Pengunjung yang hadir pada Kindnetic 2019 di antaranya himpunan psikolog se-Bali, komunitas yang bergerak di bidang kesehatan, komunitas remaja dan komunitas seni. (bas)

Categorised in:

No comment for 9,8 Persen Remaja di Bali Alami Gangguan Mental

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *