Stikom
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Lifestyle » Aborsi Dikalangan Remaja Tinggi, PKBI Gelar ‘Media Briefing dan Training’

Aborsi Dikalangan Remaja Tinggi, PKBI Gelar ‘Media Briefing dan Training’

(422 Views) Oktober 29, 2019 1:15 pm | Published by | No comment
DKT Indonesia bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali menggelar ‘Media Briefing dan Training: Harmonisasi Program Keluarga Berencana Bali Untuk Kesejahteraan Indonesia’ di Hotel Grand Santhi, Denpasar, Bali mulai Senin 28 hingga Selasa 29 Oktober 2019.

Denpasar (SpotBaliNews) –
Salah satu kendala utama edukasi kesehatan reproduksi pada generasi muda belakangan ini adalah stigma bahwa hal ini masih dianggap tabu. Padahal, edukasi dan literasi itu harus terus dilakukan untuk mengurangi kejadian kehamilan yang tidak direncanakan yang mengarah ke aborsi, serta infeksi menular seksual di kalangan generasi muda.

Untuk itu, DKT Indonesia bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali menggelar ‘Media Briefing dan Training: Harmonisasi Program Keluarga Berencana Bali Untuk Kesejahteraan Indonesia’ di Hotel Grand Santhi, Denpasar, Bali mulai Senin 28 hingga Selasa 29 Oktober 2019. Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif PKBI Bali, I Komang Sutrisna, Selasa (29/10/2019) di Hotel Grand Santhi, Denpasar.

Pihaknya turut mengundang Prof. Dr. dr. I Nyoman Mangku Karmaya (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana), Luh Putu Sukarini (Ketua Pengurus IBI), Bagus (Wakil Ketua PKBI dan Tim Pembina BKK Bali) yang menyampaikan gambaran program keluarga berencana di Bali.

Komang Sutrisna

Lanjut Sutrisna, sejak 2018, PKBI Provinsi Bali melakukan penelitian tentang kesehatan reproduksi terhadap 5 ribu remaja SMP di Kota Denpasar. Dari penelitian tersebut, banyak remaja SMP di Denpasar yang suka lawan jenis sudah biasa berciuman, memegang daerah sensitif lawan jenisnya, sampai berhubungan seks.
“Penelitian ini kami lakukan sejak 2018 dengan melibatkan 5 ribu siswa dari 5 sekolah SMP di Denpasar,” katanya. Penelitian itu dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada remaja SMP. Siswa SMP kemudian menjawab sesuai kuesioner yang diberikan.

Sutrisna mengatakan, 5 ribu siswa SMP yang dijadikan sampe berasal dari lima sekolah, yaitu SMP Negeri 3 Denpasar, SMP Negeri 4, SMP 6 (SLUA), SMP 1 Saraswati, dan SMP Wisata Sanur.

Melalui acara media brerong ini, katanya, secara garis besar DKT Indonesia dan PKBI Bali menyampaikan pentingnya alat kontrasepsi (KB) dan kesehatan reproduksi. Tujuannya untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak.

Prof. I Nyoman Mangku menyampaikan program keluarga berencana artinya, merencanakan jumlah anak dengan cara menjarakkan kehamilan. Tujuannya, demi meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dan keluarga.

Hal ini juga berkaitan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah penduduk itulah yang akan berdampak pada banyak hal, seperti mekanisme produksi dan distribusi yang serba digital, lapangan kerja berkurang dan angka pengangguran meningkat serta masih banyak dampak lainnya.

Selain itu, KB juga berhubungan dengan kualitas SDM akibat rendahnya pendidikan, usia reproduksi dan tingginya angka perceraian. Bahkan keterkaitan tersebut juga akan menimbulkan dampak lebih luas.

Dialog yang dihadiri oleh jurnalis media cetak maupun online ini menjadi momentum untuk membangun pemahaman bersama bahwa sudah saatnya generasi muda mendapatkan pengetahuan akan kesehatan reproduksi secara menyeluruh, untuk mencegah kehamilan usia dini pada pasangan muda yang menikah di bawah umur 24 tahun.

Pada kesempatan ini, Aditya A Putra selaku Head of Strategic Planning DKT Indonesia, mewakili ‘private sector’ DKT Indonesia sebagai organisasi pemasaran sosial kontrasepsi menyatakan, salah satu kendala utama edukasi kesehatan reproduksi pada generasi muda adalah stigma bahwa hal ini masih dianggap tabu.

Padahal, edukasi dan literasi itu harus terus dilakukan untuk mengurangi kejadian kehamilan yang tidak direncanakan serta infeksi menular seksual di kalangan generasi muda. “Generasi muda harus mengerti bahwa program KB bukan sekedar membatasi jumlah anak, tapi lebih dari itu. KB adalah bagian penting dari perencanaan masa depan, yang nantinya akan menentukan kualitas kehidupan dan kesehatan mereka,” ujar Aditya.

Dia melanjutkan, harapannya apabila mereka memiliki perencanaan masa depan yang kuat, mereka tahu dan bisa merencanakan di usia berapa akan menikah dan akan memiliki anak, serta menentukan berapa banyak anak yang dikehendaki.

Ditemui dalam acara ini, Prof Dr dr I Nyoman Mangku Karmaya M Repro selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana memaparkan bahwa untuk mencapai visi membangun SDM yang berkualitas, yang selama ini telah digaungkan oleh Presiden Jokowi, program Keluarga Berencana (KB) perlu untuk digalakkan dengan menyelaraskan atau harmonisasi segala tantangan-tantangan baik dari aspek hukum, aspek sosial dan aspek budaya.

Dalam rangka Sumpah Pemuda, Guru Besar Universitas Udayana tersebut kembali mengingatkan beban produksi dari generasi muda yang banyak dalam masa produktif bisa menjadi bom waktu apabila dilihat dari pemuda hanya sebagai objek produksi dan reproduksi. Untuk itu, generasi muda harus dibekali keterampilan, dan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi yang berkualitas, sejalan dengan ICPD 2 tahun 1994 di Kairo.

Pengurus PKBI Bali Ida Putu Mudita kemudian menambahkan bahwa untuk ke depannya generasi muda perlu menjadi tokoh utama program Keluarga Berencana, terutama pemahaman informasi tentang hak dan kesehatan seksual dan reproduksi. Hal ini akan menghindarkan generasi muda dari risiko tindakan aborsi yang tidak aman dan infeksi menular seksual. PKBI sendiri sudah tidak bicara mengenai keluarga berencana namun hak kesehatan seksual dan reproduksi yang dimulai dari hulu ke hilir.

Selanjutnya, dr Made Oka Negara FIAS menyatakan, berdasarkan hasil penelitian Global Early Adolescent Study (GEAS) 2018 3 di Kota Denpasar, memperlihatkan bahwa hanya 5 dari 10 remaja yang nyaman berbicara dengan orangtua/pengasuh mereka dan terdapat 43,6% remaja yang akhirnya berpacaran sembunyi-sembunyi dari orangtua mereka.

“Pendidikan seksualitas sebaiknya diberikan pada anak usia dini di mana anak berada pada tahap perkembangan seksual, Orang tua dan institusi pendidikan memiliki peranan penting untuk memberikan pendidikan seksualitas sejak dini. Pendidikan seksualitas ini penting karena KB bukan hanya sekadar penjelasan alat kontrasepsi. Keluarga Berencana berupaya untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas termasuk remaja yang sehat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Bali, Luh Putu Sekarini menggagas program Keluarga Berencana sudah saatnya diubah nama menjadi program ‘Keluarga Berkualitas‘. Hal ini untuk merubah pemahaman bahwa Keluarga Berencana hanyalah soal pembatasan jumlah anak. (aya)

Categorised in:

No comment for Aborsi Dikalangan Remaja Tinggi, PKBI Gelar ‘Media Briefing dan Training’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *