Stikom
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Perbankan » Akhir Tahun, KPwBI Bali Proyeksikan Inflasi di Bali Sebesar 2,9 Persen

Akhir Tahun, KPwBI Bali Proyeksikan Inflasi di Bali Sebesar 2,9 Persen

(289 Views) Oktober 29, 2019 10:30 am | Published by | No comment
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho, pada acara High Level Meeting (HLM) TPID Provinsi Bali, yang dihadiri Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, serta dipandu Sekda Bali Dewa Made Indra, Selasa (29/10/2019) di gedung KPwBI, Renon.

Denpasar (SpotBaliNews) –
Secara umum, risiko pendorong inflasi di Bali disebabkan tiga faktor utama, yakni pasokan komoditas utama dari luar Pulau Bali, gejolak harga musiman, dan peningkatan permintaan yang didorong oleh peningkatan kunjungan wisatawan.

Jika dilihat dari periode Januari-September 2019, inflasi Provinsi Bali secara umum sebesar 2,29 persen (rata-rata yoy) atau 1,53 persen (ytd), sedangkan hingga akhir tahun, proyeksi inflasi di Bali berkisar antara 2,4 persen-2,9 persen (yoy). Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho, pada acara High Level Meeting (HLM) TPID Provinsi Bali, yang dihadiri Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, serta dipandu Sekda Bali Dewa Made Indra, Selasa (29/10/2019) di gedung KPwBI, Renon.

Lanjut Trisno, inflasi di Pulau Dewata hingga akhir tahun 2019 juga diproyeksikan bisa lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. “Hingga minggu ketiga Oktober 2019, komoditas cabai merah dan cabai rawit memang perlu mendapat perhatian karena harganya masih berfluktuasi tinggi, meskipun saat ini sumbangan inflasi rendah,” katanya.

Selain itu, komoditas lainnya yang memberikan sumbangan inflasi tinggi juga ada daging ayam ras, bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, beras, daging sapi dan minyak goreng. “Harga cabai dan bawang memang cenderung meningkat di triwulan IV selama tiga tahun terakhir,” jelasnya.

Bali juga mengadakan kerja sama perdagangan daerah dengan provinsi lainnya, seperti dengan NTB untuk gula pasir, bawang merah, dan bawang putih, serta dengan Jawa Timur untuk komoditas beras, gula pasir, tepung terigu, daging ayam ras, minyak goreng, bawang merah, telur ayam ras, dan kedelai. Perlu juga diwaspadai tarif angkutan udara terkait dengan lonjakan permintaan pada periode “peak season” pariwisata.

“Saya berharap Desember tahun ini inflasinya bisa lebih rendah dibandingkan tahun lalu, sehingga inflasi di Bali bisa lebih baik untuk antisipasi tahun depan,” kata Trisno.

Dalam kesempatan itu, Trisno juga mengemukakan sejumlah rekomendasi pengendalian inflasi jangka pendek untuk triwulan IV/2019 diantaranya perlu dilakukan rapat koordinasi secara rutin menjelang peak season pariwisata, hari raya besar agama dan tahun baru dan pelaksanaan program pengendalian inflasi sesuai kewenangan masing-masing OPD termasuk program inovatif pengendalian inflasi seperti pasar murah, operasi pasar, satgas penimbunan barang, perbaikan jalan dan jembatan barang.

Kemudian, meningkatkan kerja sama antar-daerah di Bali dalam mengurangi ketergantungan pasokan dari wilayah Jawa maupun Nusa Tenggara dan pelaksanaan pasar murah agar menyediakan komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang inflasi di triwulan IV seperti bawang, cabai dan daging. “Kami harapkan masyarakat tidak berbelanja berlebihan dan memanfaatkan pekarangan untuk Pusat Pangan Sehat dan Lestari (Puspasari). Demikian juga kepada distributor, karena ada stok, silakan didistribusikan dengan baik kepada masyarakat,” kata Trisno.

Sementara itu, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati Mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi  Bali pada semester pertama tahun 2019 mencapai 5,80 persen. Meski melambat 0,02 persen, namun angka ini masih lebih baik dari pertumbuhan rata-rata nasional, yang tumbuh sebesar 5,05 persen (yoy). Tentunya, pariwisata turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi Bali.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Kategori G (Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor) sebesar 9,48 persen. Sementara itu bila dilihat dari sisi pengeluaran penunjang utama pertumbuhan ekonomi semester I-2019 yakni Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang tercatat tumbuh sebesar 19,64 persen.

“Pada September 2019, Provinsi Bali mengalami penurunan harga (deflasi) sebesar -0,58% (mtm) membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,44% (mtm). Pencapaian deflasi Bali bulan September ini tercatat lebih dalam dibandingkan dengan deflasi Nasional yang tercatat sebesar 0,27% (mtm),” jelasnya.

Sementara itu secara tahunan, inflasi Bali tercatat sebesar 2,54% (yoy), juga lebih rendah dibandingkan dengan nasional yang sebesar 3,39% (yoy). Dengan demikian, inflasi Bali pada September 2019 masih berada pada rentang sasaran inflasi nasional 3,5%±1% (yoy).

Pencapaian ini tentunya tidak lepas dari peran aktif TPID Provinsi Bali dalam mengendalikan inflasi melalui pemantauan kecukupan stock ketahanan pangan, menjaga stabilitas dan ekspektasi harga, penggalian informasi dengan stakeholders/instansi terkait, serta melalui forum koordinasi TPID. “Apresiasi sebesar – besarnya kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian jajaran pimpinan OPD yang telah berkontribusi dalam mengambil langkah – langkah antisipatif pengendalian inflasi,” imbuhnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Provinsi Bali telah menyusun beberapa hal yang menjadi perhatian dalam rangka persiapan menjelang peak season Hari Besar Keagamaan, antara lain :
Diperlukan adanya koordinasi dan sinergisitas dari seluruh pihak terkait guna menjaga kestabilan harga.
Peningkatan jangkauan sumber produksi pertanian terhadap pusat pemasaran produk dalam berbagai kegiatan jual beli.
Penyediaan sistem pergudangan dan cold storage untuk menjaga ketersediaan pasokan sepanjang tahun serta menghadapi panen raya dan masa paceklik.
Kerjasama Perdagangan Antar Daerah guna menjaga kestabilan harga.
Keikutsertaan pelaku usaha dalam menjaga harga dalam tingkat yang wajar.

“egiatan High Level Meeting (HLM) TPID Provinsi Bali itu sangat penting untuk menyamakan persepsi para pemangku kepentingan terkait, agar tidak berjalan sendiri-sendiri0, serta pasokan dan harga-harga komoditas yang sering bermasalah dan memicu inflasi agar benar-benar diatensi dan diambil langkah-langkah antisipasi,” tandasnya. (aya)

Categorised in:

No comment for Akhir Tahun, KPwBI Bali Proyeksikan Inflasi di Bali Sebesar 2,9 Persen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *