Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Lifestyle » Desa Adat Pemogan Denpasar Terima Karantina PMI

Desa Adat Pemogan Denpasar Terima Karantina PMI

(134 Views) April 18, 2020 11:33 am | Published by | No comment
Desa Adat Pemogan menerima karantina Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hotel Harris Sunset Road, Denpasar yang berada di wilayahnya.

Denpasar (Spotbalinews) –

Desa Adat Pemogan menerima karantina Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hotel Harris Sunset Road, Denpasar yang berada di wilayahnya.

Meskipun warganya setempat mengalami trauma dengan adanya kasus positif Covid 19 di Pemogan yang kini sudah sembuh.

Ditambah dua orang warganya meninggal mendadak karena serangan jantung dan Demam Berdarah (DB), apalagi saat ini puluhan kramanya masih terserang DB yang sedang dalam perawatan di rumah sakit.

Meskipun warga yang meninggal sudah mendapatkan keterangan diagnosa tim medis, tetapi mereka tetap khawatir karena kematiannya secara mendadak.

Namun dalam mendukung pemerintah untuk PMI yang baru datang dari luar negeri, Desa Adat Pemogan menerima dengan baik, apalagi mereka semua “semeton Bali”.

“Semoga desa adat yang memiliki fasilitas karantina juga menerima dengan baik,” kata Bendesa Adat Pemogan AA. Arya Ardana ketika pertemuan dengan pihak hotel di Denpasar, Sabtu (18/4).

Pertemuan itu diselenggarakan setelah sempat terjadi ketegangan antara warga dengan pengelola hotel.

Namun pada akhirnya masyarakat menerima dengan baik, pihaknya hanya menyayangkan tidak adanya informasi ke aparat desa dari pihak hotel maupun Pemerintah Kota Denpasar. 

Hal senada disampaikan, Kepala Lingkungan Gelogor Carik, Ketut Budiarta atau yang akrab disapa Jarot mengharapkan hotel yang lainnya banyak di Bali ikut berpartisipasi menyukseskan program karantina PMI.

“Upaya itu dapat menekan penyebaran Covid-19, ayo bergotong royong, bersama – sama membantu melakukan karantina pada PMI yang datang,” ungkapnya.

Ia juga berharap jumlah PMI yang dikarantina di hotel tersebut tidak bertambah yang kini jumlahnya 123 orang, 25 diantaranya ber-KTP Klungkung dan sisanya dari Denpasar.

Serta meminta hotel terapkan protokol kesehatan dengan ketat selama karantina dilakukan secara ketat.

Hal ini pun dijawab oleh pihak hotel bahwa semuanya terjadi secara mendadak. Pemberitahuan ke pihak desa dilakukan keesokan harinya, setelah PMI tersebut tiba.

Pada tanggal 14 April malam, rombongan PMI  berjumlah 58 orang tiba di hotel. Dari 58 PMI tersebut  25 orang ber-KTP Klungkung. Informasi baru disampaikan pihak desa pada tanggal 15/4 pagi. Kemudian pada tanggal 16 April, kembali datang PMI sehingga total berjumlah 123 orang, 25 diantaranya ber-KTP Klungkung.

Diakui, prajuru desa telah melakukan sosialisasi pada warganya terkait cara penularan dan pencegahan penularan virus Covid 19.

Sosialisasi dilakukan melalui pemasangan baliho di sejumlah titik, karena tidak bisa mengumpulkan krama untuk ikuti himbauan pembatasan orang berkumpul.

Sementara itu, GM Harris Hotel I Nyoman Wirayasa mengaku, pihaknya telah melaksanakan SOP secara ketat dalam melakukan karantina pada PMI.

Bahkan sebelum pandemi Covid-19 masif di Indonesia dan Bali,  SOP kesehatan telah dilakukan dengan ketat.

“Saat kami menerima tamu yang biasa saja,  kami sudah melakukan prosedur itu,” ungkapnya. 

Dengan menyediakan hand sanitizer di banyak titik, setiap minggu melakukan pembersihan filter AC dengan cairan disinfektan.

Begitu juga, setiap tamu yang check out dilakukan penyemprotan disinfektan. 

Karyawan pun wajib menggunakan masker, bahkan termasuk membentuk Pandemic Manager yang menangani jika ada indikasi tamu yang terpapar Covid 19.

Ia juga Cluster General Manager Tauzia Hotels Bali Region telah menyediakan suatu ruangan yang disebut isolation room lengkap dengan APD. Isolation room agar tidak mempengaruhi tamu lain,  maka digunakan kamar yang paling ujung.

Meskipun PMI yang datang sudah dinyatakan sehat di negara tempat mereka bekerja,  sampai di Indonesia mereka kembali di-Rapid test kembali.

Setelah itu, dikarantina di hotel selama 14 hari. Karyawan yang bekerja pun melayani PMI juga bekerja dengan alat pelindung diri seperti masker,  face shield,  topi,  dan sarung tangan.

Ia mengharapkan Desa Adat Pemogan menjadi percontohan yang ada di Bali. Oleh karena belakangan ini banyak Desa Adat yang menolak kedatangan karantina PMI.

Padahal mereka pahlawan devisa negara yang jauh-jauh datang kembali ke tanah kelahirannya.

Dengan karantina tersebut dapat mempermudah penanganan PMI apabila positif Covid-19 nantinya segera dibawa ke rumah sakit.

Dibandingkan PMI diberikan pulang isolasi mandiri yang bisa beresiko memaparkan kepada keluarga ataupun kerabatnya seperti sejumlah peristiwa yang terjadi.

Mereka juga setiap hari dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis untuk memastikan tetap sehat dan disiplin dalam proses karantina. (Ist)

Categorised in:

No comment for Desa Adat Pemogan Denpasar Terima Karantina PMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *