Stikom
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Travel » Misteri Situs Pesaban Terungkap, Umur Batu 30 Ribu Tahun sebagai Lambang Tolak Bala serta Kesuburan

Misteri Situs Pesaban Terungkap, Umur Batu 30 Ribu Tahun sebagai Lambang Tolak Bala serta Kesuburan

(403 Views) Juli 31, 2019 1:40 am | Published by | No comment
Situs lukisan wayang di atas batu di kawasan Manukaya Dagdag,  Desa Pesaban, Kecamatan Rendang,  Kabupaten Karangasem

Amlapura (SpotBaliNews)  –
Setelah sekian lama terpendam serta simpang siur soal keberadaan situs lukisan wayang di atas batu di kawasan Manukaya Dagdag,  Desa Pesaban, Kecamatan Rendang,  Kabupaten Karangasem, akhirnya terungkap. Seperti apa makna peninggalan bersejarah itu? 

Medan yang sulit serta minimnya kesadaran akan pentingnya sejarah membuat salah satu bagian keberadaan situs wayang dalam gambar bentuk manusia ini menjadi lama tak terlestarikan. Namun,  berkat Pokdarwis atau Kelompok Desa Wisata yang dikomandani oleh I Putu Puspa Artayasa benda bersejarah itu mulai dikuak misterinya. Berkat doa dan restu masyarakat Pesaban serta dukungan dari Kepala Desa, Dewa Sarjana dan Bendesa Adat, I Made Sudiarta, akhirnya benda bersejarah itu bisa terkuak.

Menurut Putu Yuda Haribuana dari Badan Arkeologi Bali yang turun langsung ke lokasi memaparkan kajian singkatnya.
“Kajian singkat ini kami buat sebagai tindak lanjut dari peninjauan lapangan ke
lokasi temuan relief, sebagaimana surat undangan dari Pokdarwis Saban Bercahaya
Desa Pesaban, Nomor: 5/PKD-PSB/VI/2019, yang ditujukan kepada Kepala Balai
Arkeologi Bali,” kata Putu.

Berdasarkan undangan tersebut, Kepala Balai Arkeologi menugaskan pihaknya untuk melakukan peninjauan ke lokasi dimaksud dengan surat tugas Nomor: 0649/H5.9/KP/2019. Kegiatan peninjauan dilakukan bersama dengan perwakilan dari Balai Arkeologi Bali, BPCB Bali, Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem, Camat Rendang dan Perbekel Pesaban, serta Kepala Dusun Pesaban Kawan dilakukan pada Senin (8/7/2019)

Hasil dan pembahasan, lokasi relief secara administratif terletak di Dusun Pesaban Kawan atau Subak Mukaya, Desa Pesaban, Kecamatan Rendang-Karangasem. Secara
astronomis terletak pada –8.47293ºLS dan 115.39490ºBT di ketinggian 369.2 mdpl.
Lokasi dapat dicapai dari Kantor Desa Pesaban menuju ke utara kemudian lewat gang ke arah barat atau kiri, dengan menggunakan sepeda motor mengikuti jalan beton sejauh ± 1km.

“Relief ini dibuat pada sebuah media batu padas pada tebing bagian timur
Tukad atau Sungai Jinah, ukuran total media batu padas terdapat relief ini adalah 3 x 2.4 m, dengan kedalaman pahatan 5 cm. Relief berupa gambar perwujudan laki-laki dan perempuan dengan ciri khas menampakkan alat genital,” ujarnya.

Lebih jauh ditekankan,  Gaya relief sederhana dengan hiasan pada pinggiran yang berbentuk bingkai bermotif bentuk mata, daun, suluran, kotak dan lingkaran atau spiral. Media batu pada relief ini berupa batuan tufa dengan sedikit fragmen breksi. Jika dikorelasikan dengan kisaran umur pada peta geologi yang dikompilasi oleh Purbo-Hadiwidjojo et al (1998), batuan ini termasuk dalam kelompok Batuan Gunung api Buyan, Bratan dan Batur dengan kisaran umur 30.000 tahun.

Kelompok batuan vulkanik  ini sebagian besar tersusun atas tufa dan lahar. Kondisi relief secara keseluruhan masih terjaga dengan baik, namun terdapat beberapa bagian yang telah aus atau lapuk dan ditumbuhi sejenis tumbuhan jamur.
Letak relief yang berada pada tebing
sungai yang sangat curam dengan kemiringan hampir 90º, namun masih terdapat sejenis pelataran sempit dari sedimen atau endapan tanah, bekas jatuhan bongkahan batuan dari atas, sehingga masih dapat dilalui walaupun harus dengan sangat berhati-hati.

Dalam arkeologi, penggambaran sesuatu dengan media batu, dari teknik pembuatannya terbagi menjadi tiga, rock painting (lukisan), rock engraving
(goresan) dan rock carving (pahatan). Gambar di situs Mukaya Dagdag termasuk
dalam rock carving. Berdasarkan dari bentuknya, pahatan berupa dua figurin ini  termasuk bertipe sederhana dan teknik pengerjaannya masih kasar. Penggambaran gigurin kaku dan statis. Ukiran tidak dipahatkan secara keseluruhan, hanya bagian  kepala, dengan mata, hidung, dan mulut, serta hiasan kepala.

Dari keseluruhan penggambaran tersebut, seni cadas diatas dapat dikaitkan dengan konsep budaya megalitik. Istilah megalith berasal dari mega berarti besar dan lithos berarti batu. Budaya megalitik berkembang sejak masa neolitik hingga masa perundagian, bahkan sampai saat ini masih ada yang bertahan, dan disebut Sebagai tradisi megalitik. Konsep yang melatarbelakangi budaya megalitik adalah
kepercayaan pada roh leluhur.

Kebudayaan megalitik hadir sebagai manifestasi dalam menjalin hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal. Apabila dikaitkan dengan konsep megalitik, penggambaran dua figurin
berupa laki-laki dan perempuan tersebut kemungkinan melambangkan leluhur dan
genitalia yang menonjol melambangkan kesuburan maupun tolak bala.

Hal ini terkait dengan kepercayaan bahwa roh orang yang telah meninggal hidup di alam lain, dan dianggap mempunyai pengaruh kuat terhadap kehidupan manusia yang masih hidup, sehingga media tersebut dipergunakan sebagai penghubung.
Dalam kehidupan prasejarah di Bali, kebudayaan megalitik berkembang
sangat pesat, dengan tinggalannya yang paling banyak ditemukan berupa sarkofagus atau petikubur batu. Hiasan yang terdapat di dalam sarkofagus berupa kedok muka, dan juga genitalia yang menonjol.

Menurut beberapa peneliti, hal tersebut terkait dengan konsep kelahiran kembali dan juga kesuburan serta tolak
bala. Temuan berupa seni cadas dengan bentuk yang sederhana seperti diatas,
belum ditemukan di daerah lain di bali, sehingga sangat menarik untuk dikaji lebih
jauh agar dapat mengintepretasikan lebih dalam terkait dengan fungsi dan makna
Yang terkandung di dalamnya.

Lebih jauh untuk mengungkap keterkaitannya dengan situs megalitik lain di Bali maupun di Indonesia, temuan seni cadas di Indonesia ditemukan dibeberapa seperti di Sulawesi dari masa yang lebih tua (masa paleolitik), situs gua harimau di Sumatra, di papua, dan di wilayah NTT.

Seni cadas berupa pahat baru-baru ini ditemukan di Lembata dan di Alor. Simpulan sementara mengenai seni cadas di NTT terkait dengan budaya Austronesia yang menyebar di wilayah ini. (red)

Categorised in:

No comment for Misteri Situs Pesaban Terungkap, Umur Batu 30 Ribu Tahun sebagai Lambang Tolak Bala serta Kesuburan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *