
Denpasar, spotbalinews.com-
Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Bali melakukan penguatan koordinasi lintas sektor menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
“Salah satunya koordinasi kehumasan dengan media lokal dan nasional saat ini. koordinasi ini kami lakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menjelang Nataru, sekaligus pencegahan penularan penyakit yang dapat terjadi melalui barang bawaan di kawasan perbatasan perairan dan bandara,” ujar Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Bali, Heri Yuwono, A.Pi, S.Pi, M.P, pada acara koordinasi kehumasan dengan media lokal dan nasional 2025, Rabu (24/12/2025) di kantor setempat.
Lanjutnya, jelang nataru ini pihaknya melakukan patroli bertahap, supaya layanan pemerintah, terutama entitas di pelabuhan dan bandara, bisa berjalan dengan baik. “Kita ingin pergerakan masyarakat lancar, aman, dan tidak menjadi media penyebaran penyakit. Patroli ini kami gencarkan untuk mencegah penyebaran penyakit selama periode pergerakan masyarakat khususnya di momen Nataru,” katanya.
Patroli dan juga koordinasi ini bertujuan mengantisipasi potensi masuk dan keluarnya komoditas berisiko membawa penyakit.
Pihaknya mengungkapkan, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa barang tertentu, termasuk hewan dan produk hewani, berpotensi menjadi media penularan penyakit jika tidak dilengkapi dokumen karantina.
Selain itu, hewan peliharaan seperti kucing dan anjing wajib dilengkapi sertifikat vaksinasi, terutama rabies.”Kami minta masyarakat lengkapi dokumennya,” jelasnya.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) juga melakukan edukasi langsung kepada masyarakat dan pelaku usaha di pelabuhan agar semakin patuh terhadap aturan karantina.
Pihaknya menegaskan bahwa UU Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan memberikan amanah besar kepada Barantin, tidak hanya dalam mencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit hewan, ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan karantina, tetapi juga dalam pengawasan keamanan dan mutu pangan serta pakan, pelindungan tumbuhan dan satwa liar serta langka, produk rekayasa genetika, sumber daya genetik, hingga pengendalian jenis asing invasif.
Pihaknya juga menyampaikan bahwa peran karantina tidak hanya sebagai penjaga perbatasan (border protection), tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang mendukung daya saing dan akseptabilitas produk unggulan ekspor Indonesia di pasar internasional.
Heri menambahkan, begitu juga Insan pers atau media sangat berperan besar dalam mempublikasikan seluruh kegiatan Barantin yang bermanfaat bagi kalangan pebisnis hingga masyarakat, terutama pengaruhnya dalam memberikan wawasan kepada masyarakat luas.
“Koordinasi dengan Insan Media ini bertujuan untuk meningkatkan sinergitas guna mencapai tujuan bersama dalam membangun bangsa. Komunikasi dan sinergi yang telah dibangun selama ini dengan insan pers sudah baik. Kami harapkan ke depan dapat ditingkatkan,” tandasnya. (Sbn)

