38 Karya Perupa Payangan Dipamerkan di Santrian Art Gallery, Bertajuk “Udhar Banda Karma”

Himpunan Perupa Payangan menggelar pameran kolektif bertajuk “Udhar Banda Karma” di Santrian Art Gallery, Sanur, pada Jumat (18/09/2026).

DENPASAR, spotbalinews.com— Himpunan Perupa Payangan menggelar pameran kolektif bertajuk “Udhar Banda Karma” di Santrian Art Gallery, Sanur, yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, pada Jumat (18/09/2026). Pameran ini menghadirkan 38 karya yang merepresentasikan keberagaman karakter dan eksplorasi seni rupa para perupa Payangan.

Menurut Ketua Himpunan Perupa Payangan, I Made Dolar Astawa, pameran tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan komunitas perupa Payangan.

Menurutnya, setelah sebelumnya berkarya di Ubud dengan fokus menyalakan energi internal melalui filosofi Bayu-Idep-Karma, para perupa Payangan kini mencoba melangkah lebih jauh melalui konsep Udhar Banda Karma.

“Udhar Banda Karma” dimaknai sebagai upaya bersama untuk mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, sekaligus mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa yang lebih terbuka.

Sebanyak 38 karya ditampilkan dalam pameran tersebut. Karya-karya itu mencakup lukisan yang mempertahankan tradisi, perpaduan estetika modern, eksplorasi abstrak hingga seni patung dengan dinamika visual yang beragam.

I Made Dolar Astawa menyebut keberagaman tersebut menjadi kekuatan Himpunan Perupa Payangan sebagai sebuah keluarga besar seni rupa.

“Pameran ini adalah persembahan jujur dari pedalaman Payangan untuk dunia seni rupa yang lebih luas,” demikian disampaikan dalam sambutan Ketua Himpunan Perupa Payangan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Gianyar yang memberikan dukungan moril sekaligus membuka pameran, serta kepada manajemen Santrian Art Gallery, panitia, kurator dan seluruh perupa yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Akhir Persahabatan”, Kisah Tantri Kamandaka dalam Patung Terakota

Salah satu karya yang dipamerkan adalah patung terakota berjudul “Akhir Persahabatan” karya Drs. I Made Suparta, M.Hum.

Karya yang dibuat pada 2026 tersebut mengangkat klimaks tragis dari cerita Tantri Kamandaka, yakni pertempuran antara Singa Candapinggala, raja hutan, dengan Lembu Nandaka, sahabatnya sendiri.

Dalam kisah tersebut, hubungan persahabatan keduanya yang semula berlangsung damai terusik oleh hasutan Patih Sambaddha Srigala. Hasutan tersebut memicu kecurigaan hingga akhirnya kedua sahabat itu saling menerkam.

Patung tersebut dibuat dari tanah liat bakar atau terakota dengan ukuran sekitar 30 x 40 x 45 sentimeter. Permukaannya diberi finishing hijau yang digosok hingga menghasilkan kilau menyerupai perunggu antik.

Melalui karya tersebut, I Made Suparta tidak sekadar menghadirkan pertarungan dua figur binatang, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai rapuhnya persahabatan ketika kecurigaan dan hasutan dibiarkan berkembang.

Setiap lekukan tubuh Singa dan Lembu dalam posisi saling berhadapan menggambarkan ketegangan sekaligus tragedi hubungan dua sahabat.

Drs. I Made Suparta, M.Hum.

“Akhir Persahabatan” menjadi refleksi bahwa kata-kata dapat menjadi pemicu konflik dan persahabatan yang kuat dapat runtuh ketika keraguan mulai meracuni hati.

Pameran “Udhar Banda Karma” menjadi ruang bagi para perupa Payangan untuk membawa karya dari pedalaman Gianyar menuju ruang apresiasi seni yang lebih luas, sekaligus membuka dialog antara tradisi, kreativitas dan perkembangan seni rupa kontemporer. (Sbn)

Mungkin Anda Menyukai