
Mangupura, Spotbalinews.com–
Di tengah pandemi virus corona penyebab COVID-19, masyarakat harus selalu memperhatikan kebersihan diri sendiri dan lingkungan. Masyarakat diminta sering-sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer hingga terus memakai masker agar terhindar dari virus corona. Apalagi dalam waktu dekat ini semua mata dunia akan tertuju pada Pulau Dewata, karena dipercaya sebagai rumah Presidensi G20 tahun 2022 ini.
Untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan nyaman tentu menjadi kewajiban setiap orang. Namun, kadang masih ada segelintir orang yang kurang menyadari betapa pentingnya menjaga kebersihan.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberitahu orang lain agar menjaga kebersihan. Satu di antaranya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Refuse, Reduce, Recycle (TPST-3R) di Desa Adat Seminyak, Kecamatan Kuta. TPST-3R Seminyak Clean yang berdiri tahun 2003 merupakan tempat pengolahan sampah berbasis kearifan lokal terpadu pertama yang dikelola secara mandiri di Bali dan juga di Indonesia.

TPST 3R Seminyak Clean berdiri tahun 2003 di atas lahan seluas 15 are dengan status tanah 3 are milik desa adat dan 12 are milik Pemprov Bali, dengan status sewa. “Saat ini TPST 3R Seminyak Clean berkembang amat pesat dengan jumlah pelanggan sekitar 1.800 pelanggan,” ujar Ketua TPST-3R Seminyak Clean, I Komang Ruditha Hartawan, pada acara Coke Tour 2.0 “Komitmen Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat” bersama jurnalis, Rabu (31/08/2022), di TPST-3R Seminyak, Kuta.
Walaupun dikelola secara mandiri, namun TPST 3R memiliki armada 16 truk dan pick-up, dan dua loader, dengan tanaga kerja sebanyak 48 orang. Selain itu, TPST 3R Seminyak Clean mampu mengolah sampah hingga puluhan ton per hari. Total sampah yang dikelola tersebut sebagian besar sampah organik yang lalu diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah serta dicacah kemudian dijual.
Hasil kompos olahan dijual kembali kepada semua jasa pariwisata yang punya taman di Desa Adat Seminyak, sedangkan hasil penjualan kompos maupun bank sampah dipakai menutup biaya oprasional TPST 3R Seminyak Clean agar konsisten dalam memberi pelayanan kepada masyarakat.

Kata pria yang akrab disapa Pak Koming ini, TPST-3R ini melayani transportasi langsung berbasis sumber seperti sampah rumah tangga, hingga sampah wisata seperti hotel, vila, resto dan usaha lainnya di Desa Adat Seminyak dan sekitarnya.
Dengan berbasis sumbernya langsung maka pemilahan sesuai jenisnya mudah dilakukan, yaitu sampah organik anorganik. Hal ini bisa mengurangi dampak residu di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Dari hasil pemilahan tersebut di atas dan disalurkan kembali menjadi pupuk kompos yang disalurkan ke berbagai akomodasi wisata yang memiliki kebun, serta pakan ternak yang disalurkan kepada kelompok ternak di sekitaran TPA Suwung sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap peternakan dengan keberadaan TPA tersebut.
TPST-3R ini memiliki tugas melayani sampah di 478 rumah tangga dan 874 akomodasi wisata wilayah Seminyak dan sekitarnya tentu memilik beban operasional yang tidak ringan, tetapi melalui pengelolaan yang tepat maka semuanya dapat teratasi.

“Sumber dana kami dapat dari iuran masyarakat serta subsidi dari usaha-usaha besar seperti perhotelan dan penjualan kompos, dengan pendapatan mencapai Rp180 juta perbulan yang kami gunakan untuk membiayai operasional yang melibatkan sebanyak 48 orang tenaga yang mengoperasikan armada pengangkut dan pengoperasian peralatan TPST,” jelas Komang Ruditha .
Lanjutnya, bantuan mesin dalang (daur ulang) juga melengkapi 25 peralatan yang telah ada untuk pengolahan sampah menjadi lebih baik lagi untuk wilayahnya.
Mesin tersebut yang menghasilkan langsung berupa produk jadi yaitu pupuk organik dan produk baru berupa papan dan balok yang juga bisa dikembangkan menjadi produk lainnya.
Balok dan Papan yang kami hasilkan langsung kami buat ornamen atau karya seni seperti seni pahat, seni ukir dan seni lukis serta lainnya.

“Produk hasil output pengolahan sampah dari mesin dalang yang berupa papan dan balok ini merupakan media baru bagi para seniman Bali, khususnya di wilayah kami di Seminyak, Badung,” katanya. Selain tempat wilayah kita jadi bersih dengan pengelolaan sampah jadi lebih baik dengan adanya mesin baru yaitu mesin dalang (daur ulang) dan hal ini juga bisa meningkatkan produktifitas pengelolaan sampah secara optimal yang menghasilkan produk baru dari daur ulang hingga dapat berdampak positif melahirkan usaha – usaha UMKM baru yang dapat menambah penghasilan tiap daerah.
Tidak hanya mengelola sampah saja, menurut Komang Ruditha beragam manfaat juga dihadirkan, salah satunya berupa program lingkungan pendidikan yang menyasar siswa SD, SMP, SMA dan berbagai kelompok swadaya masyarakat di Bali, bertujuan memberikan pentingnya sampah dikelola dengan baik agar tidak mempengaruhi lingkungan.
“Selain itu program ‘Beach Clean Up’ dengan memberdayakan masyarakat pesisir Seminyak untuk menjaga kebersihan, mengingat pantai merupakan salah satu daerah tujuan wisata dan juga sejak tahun 2007 kami mendapatkan dukungan dari Coca Cola berupa traktor, mesin pembersih pantai serta dana operasional hal ini sebagai bentuk sinergi dalam menjaga kebersihan lingkungan,” tandasnya.
Manfaat hadirnya TPST-3R ini tidak hanya dirasakan oleh warga dan pelaku usaha di empat banjar wilayah Desa Adat Seminyak saja tetapi tetangga mereka di lingkungan Banjar Segara, Kuta, turut serta merasakannya.

“Sejak tahun 2018 warga banjar kami terbantu dalam pengelolaan sampah, apalagi di Desa Adat Kuta sangat tidak mungkin membangun TPST-3R karena terkendala lahan yang tidak memungkinkan,” kata Nyoman Water, selaku Kepala Lingkungan Banjar Segara, Kuta.
Hal senada diungkapkan Komang Sudiarta, salah seorang sosok di balik Komunitas Malu Dong. Bersama Komunitas Malu Dong yang dia dirikan, Komang Sudiarta mengikis budaya nyampah di Pulau Dewata dengan aksi nyata. Seiring berjalannya waktu, bendera komunitas Malu Dong juga semakin banyak berkibar di banjar-banjar, komunitas terkecil di Bali.
Komunitas peduli sampah yang namanya semakin populer di kalangan anak-anak muda Pulau Dewata ini berhasil menemukan strategi sederhana, tapi cukup mengena untuk menyentil perilaku warga yang gemar membuang sampah sembarangan.
“Kegiatan utama Malu Dong memang membersihkan sampah. Tiap minggu kami melakukan aksi pembersihan sampah di Pantai hingga pegunungan. istilah lainnya Nyegara Gunung,” kata warga Banjar Tampak Gangsul, Denpasar ini.
Lanjutnya, anggota Malu Dong dari beragam latar belakang, seperti arsitek, pengacara, desainer, dan musisi tanpa sungkan bertindak layaknya pemulung. “Mereka menyediakan alat untuk memungut sampah dan karung untuk tempat sampah,” katanya.
Di akun media sosial paling hits saat ini, Instagram, komunitas ini punya lebih dari belasan ribuan pengikut. Bendera komunitas yang lebih akrab disingkat Malu Dong ini juga banyak berkibar di banjar-banjar, komunitas terkecil di Bali. Dalam tiap kegiatan bersih-bersih, sedikitnya 100 orang ikut kegiatan mereka.
Pihaknya memulai inisiatif untuk membrantas sampah di lingkungannya sejak 2009. Ketika itu dia baru bekerja di luar negeri, termasuk Amerika Serikat dan Australia. Saat kembali ke tanah kelahiran, Komang merasa malu melihat banyak orang membuang sampah sembarangan.
“Bali terkenal sebagai tempat wisata tapi banyak sekali sampah. Harus ada yang turun ke lapangan untuk membersihkannya,” kata pria yang akrab dipanggil Om Bemo ini.
Pihaknya selalu membawa bendera Malu Dong yang berisi gambar simbol ekspresi wajah atau emoticon malu. “Saya tidak mau mundur. Saya harus konsisten untuk membuktikan keseriusan saya membersihkan sampah demi anak cucu kita nanti,” jelasnya.
Dengan cara memungut sampah itu dia tak hanya ingin menunjukkan pada anak-anak muda tentang perlunya membuang sampah pada tempatnya tapi juga menyampaikan pesan kepada pemerintah agar lebih peduli pada pengelolaan sampah.
Banjar dan sekolah menjadi target awal saat melakukan gerakan Malu Dong. Dia mendatangi sekitar ratusan sekolah, dari SD sampai SMA yang ada di Bali.
Seiring waktu, semakin banyak pihak tertarik dan kemudian bergabung. Tahun lalu, tepatnya pada 23 April 2016, Komunitas Malu Dong resmi diluncurkan kepada publik.
Hingga kini, Komunitas Malu Dong kerap menjadi narasumber di beberapa universitas atau kegiatan seperti bakti sosial.
Corporate Affairs Manager Coca-Cola Europacific Partners Indonesia Balinusa Operations, I Made Pranata Wibawa mengungkapkan, di masa pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung, Bali melakukan berbagai penyesuaian untuk mengangkat kembali citra sebagai ikon pariwisata ternama di Indonesia dan dunia. Dibukanya kembali akses untuk menyambut wisatawan domestik dan mancanegara dilakukan untuk meyakinkan wisatawan datang ke Bali dengan aman dan nyaman.
“Sebagai tuan rumah presidensi G20, salah satu poin penting yang harus segera diselesaikan mencakup penanganan dan pengelolaan sampah,” ujarnya.
Lanjutnya, belum maksimalnya pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Suwung, melahirkan kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019, dimana penyelesaian persoalan sampah akan dilakukan di sumber (desa). Seluruh desa di Ball didorong untuk melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pendekatan 3R (reduce, reuse, recycle) yang implementasinya diproses oleh Tempat Pengelolaan Sampah berbasis 3R (TPS-3R).
“Kebutuhan untuk mengurangi pemrosesan sampah di TPA akan berhasil jika masyarakat sudah maksimal dalam menerapkan pemilahan sampah mulai dari rumah tangga dengan metode pengurangan penggunaan barang sekali pakal (reduce), pemanfaatan kemball barang yang masih bernilal (reuse), dan pengolahan sampah menjadi produk baru yang bermanfaat (recycle),” ungkapnya.
Namun efektivitas sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat Ini pun jika diamati masih menemui banyak kendala dalam penerapannya terutama perihal aktivitas pemilahan sampah pada sumbernya.
Katanya, sisi edukasi dan sosialisasi juga berperan penting dalam tata kelola penanganan sampah. Pengetahuan, perilaku, serta ekspektasi masyarakat terhadap penerapan prinsip 3R harus sudah benar-benar dipahami terlebih dahulu yang dapat dijalankan berbarengan dengan penerapan sistemnya.
“Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia sebagai salah satu warga usaha yang beroperasi di Provinsi Bali menyadari bahwa sinergi, kolaborasi dan kontribusi merupakan aspek penunjang keberlanjutan usaha (sustainability),” jelasnya. Terkait hal tersebut, strategl sustainability CCEP Indonesia di masyarakat (community) antara lain menginvestasikan waktu, keahlian dan sumber daya untuk meningkatkan kualitas hidup dan menumbuhkan itikad baik bersama komunitas melalui inisiatif lokal yang relevan dan selaras dengan berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah.
“Sejalan dengan eksekusi dan tindakan nyata yang terus kami lakukan, salah satu upaya yang dapat kami lakukan dalam wujud membangun harmonisasi hubungan dan kerjasama positif bersama komunitas antara lain melalui wadah edukasi dan studi lapangan di komunitas, yang telah melakukan proses pengelolaan dan penanganan sebagai “Komitmen Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat”, tandasnya. (aya)

