
Oleh :
I Wayan Sukarsana, S.E.
Senior Fasilitator Tim 08, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali
DESA Kampung Kusamba yang mayoritas penduduknya beragama Islam memang memiliki segudang potensi ekonomi jika betul – betul dapat digali dan dimanfaatkan. Selain potensi nelayan, juga dagang dan buruh angkut barang yang sudah biasa dilakukan oleh sebagian besar masyarakatnya. Desa dengan wilayah pesisir yang berada di Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali ini merupakan pintu keluar khususnya angkutan barang baik material building maupun sembako yang akan dibawa ke Pulau Nusa Penida. Sebagaimana diketahui, Pulau Nusa Penida adalah pulau indah yang sudah terkenal dengan wisata alam, wisata bahari dan wisata religi.
Di pulau ini juga terdapat beberapa Pura (tempat suci) penting bagi pemeluk agama Hindu khususnya bagi masyarakat Bali. Penduduk Desa Kampung Kusamba yang mayoritas beragama Islam ini memiliki sejarah ikatan yang sangat besar atas perkembangan Islam di Pulau Dewata ini. Bukti sejarah tersebut ditandai dengan adanya makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Hamid.
Letaknya tepat di pesisir pantai Kusamba. Potensi- potensi ekonomi yang lainnya ini belum tergarap dan terorganisir dengan baik. Pada bagian pesisir atau pantai yang terdapat di Desa Kampung Kusamba, gambaran kekumuhan terlihat dengan jelas terutama pada permasalahan sampah. Berdasarkan SK Bupati Klungkung Tahun 2020 kawasan kumuh permukiman nelayan Kusamba adalah 26.49 Ha. Dari beberapa indikator kumuh yang ada seperti jalan lingkungan, persampahan, drainase, air bersih, dan sanitasi sejak terbitnya SK Kumuh memang belum dapat penanganan.

Melihat gambaran kekumuhan di Desa Kampung Kusamba terutama dari segi persampahan saat ini sepertinya jika ditinjau dari potensi wisata pantai dan bahari hal ini tidak layak dan memadai. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintahan desa, kabupaten dan pusat untuk lebih memperhatikan kondisi ini, dengan harapan ke depannya kondisi ini bisa berubah ke arah lebih baik terutama sarana dan prasarana lingkungan yang otomatis akan menunjang potensi ekonomi yang ada.

Di samping upaya penanganan kumuh, upaya-upaya perbaikan ekonomi masyarakat terkait dengan mata pencaharian untuk penghidupan berkelanjutan atau livelihood juga terus digali dan diupayakan oleh pemerintah desa bersama sama dengan Badan Keswadayaan Masyarakat ( BKM). Adalah Angkal Bali Boat, jasa transportasi laut yang bertempat di pantai Kampung Kusamba yang melayani angkutan orang. Keberadaan dari jasa transportasi ini dengan sarana dan prasarananya seperti dermaga penyeberangan tentu adalah salah satu potensi ekonomi bagi masyarakat di Desa Kampung Kusamba. Dermaga penyeberangan ini akan melengkapi dari pada dermaga yang telah ada seperti dermaga tribuana yang terdapat di sebelah timur.

Keberadaan dermaga ini akhirnya membuat Desa Kampung Kusamba semakin ramai dikunjungi untuk kebutuhan penyeberangan ke Pulau Nusa Penida. Mereka yang menyeberang dari Kampung Kusamba menuju Nusa Penida dengan berbagai kepentingan seperti berwisata atau melakukan persembahyangan ke Pulau Nusa Penida. Terlebih lagi di hari raya besar keagamaan bagi umat Hindu seperti Hari Raya Galungan, Kuningan, Saraswati, Rahina Purnama dan hari – hari lain, juga bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Keberadaan warung-warung yang menjual makanan dan minuman di Pantai Kampung Kusamba adalah potensi ekonomi yang potensial. Terdapat peningkatan penjualan dari sebelum beroperasionalnya dermaga ini dibandingkan dengan setelah operasional. Peningkatan ini terjadi karena bertambah banyaknya orang yang berkunjung ke kawasan ini untuk kebutuhan penyeberangan. Potensi dagang dengan jenis yang lain selain makanan dan minuman juga memiliki peluang seperti suvenir, oleh – oleh khas Kampung Kusmaba seperti ikan dan lain lain adalah potensi juga. Ini semua tergantung dari pada jiwa kewirausahaan yang dimiliki warga setempat. Makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Hamid juga semakin banyak orang yang mengunjungi. Yang berkunjung ke makan tidak hanya bagi mereka yang beragama Islam, akan tetapi juga bagi pemeluk agama lain. Dengan banyaknya orang yang berziarah dan berkunjung ke makam maka akan bertambah pula retribusi yang masuk.

Hal vital lainnya yang memiliki potensi ekonomi berkelanjutan adalah keberadaan kantong- kantong parkir, baik kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua. Dengan ramainya pengunjung yang akan menyeberang ke Nusa Penida, maka lahan parkir akan semakin banyak diperlukan. Karena ramai, maka lahan parkir yang ada tidak akan cukup untuk menampung semua kendaraan, yang akhirnya adalah sejumlah halaman rumah warga yang terdapat di sekitar pantai menjadi lahan parkir dan mendapatkan retribusi atas penggunaan lahan tersebut. Mengingat orang yang akan menyeberang ke Pulau Nusa Penida untuk kebutuhan berwisata maupun sembahyang setidaknya memerlukan waktu minimal dua hari. (Ist)



