Handy Saputra Hadirkan Dialog Bulan Dan Cahaya Halo, Seni Kontenporer Bali Menembus Batas Imajinasi

Pameran tunggal bertajuk The Dialogue Between The Moon and Its Halo atau Cengkerama Sang Bulan dengan Sinar Sekelilingnya, pada Jumat (06/11/2026), bertempat di Griya Santrian Galery, Sanur.

Denpasar, spotbalinews.com-

Seniman kontemporer asal Bali, Handy Saputra, kembali menghadirkan eksplorasi seni visual melalui pameran tunggal bertajuk The Dialogue Between The Moon and Its Halo atau Cengkerama Sang Bulan dengan Sinar Sekelilingnya, pada Jumat (06/11/2026), bertempat di Griya Santrian Galery, Sanur.

Pameran ini bukan sekadar pertunjukan karya seni rupa kontemporer.

Lebih dari itu, Handy mengajak publik menyelami kedalaman batin manusia, membaca realitas sosial, hingga merefleksikan berbagai persoalan kemanusiaan melalui bahasa visual yang ekspresif dan penuh makna.

Dalam pengantar kuratorial yang ditulis Muhammad Bundhowi, konsep pameran terinspirasi dari syair kuno penyair Tiongkok, Gu Feng, tentang hubungan bulan dengan lingkaran cahaya atau halo yang selalu mengelilinginya.

Filosofi tersebut menjadi metafora hubungan manusia dengan kehidupan.

Cahaya tidak hadir untuk menyaingi bulan, tetapi justru membingkai dan melindungi keindahannya.

Melalui pendekatan tersebut, karya-karya Handy Saputra menghadirkan ruang perenungan tentang identitas, kemanusiaan, perilaku sosial, serta fenomena kehidupan yang terjadi di sekitar manusia.

SENI LIAR, JUJUR, DAN MENEMBUS BATAS AKADEMIS

Handy Saputra dikenal sebagai seniman kontemporer sekaligus pengusaha asal Bali yang menekuni aliran Art Brut atau seni mentah serta Outsider Art, yakni seni yang berkembang di luar arus utama dunia seni.

Karakter karya Handy memiliki keunikan tersendiri. Ekspresi visualnya cenderung liar, naluriah, emosional, dan tidak terikat sekat-sekat teknik akademis.

Berbekal latar belakang manajemen bisnis, Handy mengembangkan praktik seni visual secara otodidak dengan pendekatan eksperimental.

Berbagai medium digunakan, mulai dari tinta Tiongkok di atas kertas, cat akrilik di atas kanvas, seni cetak, litografi, sablon hingga seni ukir kayu.

Bahkan, eksplorasi teknik grafisnya juga melibatkan proses produksi di DEVFTO Printmaking Studio.

KRITIK SOSIAL DAN IRONI SOSIO-POLITIK

Menariknya, karya-karya Handy tidak hanya berbicara tentang keindahan visual.

Di balik ekspresi yang terkadang liar dan abstrak, tersimpan ironi sosio-politik, persoalan sosial, serta pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari.

Salah satu karya yang disebut dalam pengantar kuratorial adalah Looking for Scapegoat.

Karya tersebut menjadi bagian dari eksplorasi visual yang mengundang publik untuk membaca realitas kehidupan melalui sudut pandang yang lebih kritis dan imajinatif.

Perjalanan artistik Handy juga terlihat melalui dua pameran sebelumnya, yakni The Audacity of Silent Brush dan The Dragonfly’s Ripples.

Kedua pameran tersebut memperlihatkan perkembangan kreativitas dan kematangan interpretasi visual Handy Saputra.

Handy Saputra

Jika sebelumnya karya-karyanya lebih menonjolkan pencarian ekspresi personal, perkembangan berikutnya menunjukkan pijakan kreatif yang semakin kokoh serta mampu mengundang beragam interpretasi publik.

BALI DALAM PETA SENI KONTEMPORER

Fenomena Art Brut sendiri bukan sesuatu yang baru di Indonesia.

Pengantar kuratorial turut menyinggung nama Ni Nyoman Tanjung dari Bali, yang ditemukan oleh seniman Made Budhiana dan diperkenalkan ke dunia internasional melalui antropolog asal Swiss, Georges Breguet.

Selain itu, disebut pula Dwi Putro Mulyono atau Pak Wi dari Yogyakarta sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan seni outsider di Indonesia.

Kehadiran Handy Saputra memperlihatkan bahwa seni kontemporer tidak harus selalu lahir dari pendidikan akademis atau mengikuti pakem seni yang sudah mapan.

Justru melalui kebebasan berekspresi, keberanian bereksperimen, dan kejujuran artistik, seorang seniman dapat membangun identitas serta bahasa visualnya sendiri.

Melalui The Dialogue Between The Moon and Its Halo, Handy Saputra mengajak masyarakat tidak sekadar melihat sebuah lukisan atau karya visual, tetapi juga membaca pesan, menangkap kegelisahan, dan menemukan makna di balik setiap ekspresi.

Sebuah dialog antara bulan dan cahaya, antara manusia dan kehidupan, serta antara seni dan realitas sosial yang tidak pernah berhenti bergerak. (Sbn)

Mungkin Anda Menyukai