Kementerian BUMN Dukung PT Perikanan Indonesia Kokohkan Lini Bisnis Pengolahan Ikan


Denpasar (Spotbalinews) —

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung PT Perikanan Indonesia (Persero) menjadi perusahaan BUMN perikanan yang besar dengan memperkuat lini bisnis pengolahan dan perdagangan ikan.

Wakil Menteri BUMN I Pahala N Mansury mengatakan sektor perikanan adalah salah satu komoditas yang harus diprioritaskan. Hal ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo dan Menteri BUMN Erick Thohir.

“Negara kita adalah kepulauan dan PT Perikanan Indonesia harus dibesarkan. Kuncinya harus dikuatkan di sektor pengolahan ikan dan perdagangan ikan,” katanya saat mengunjungi area bisnis PT Perikanan Indonesia (Persero) Cabang Benoa, Rabu (29/12/2021).

Pahala mengunjungi kapal ikan yang sedang berlabuh, ke tempat processing ikan, ke cold storage hingga ramah tamah dengan mitra PT Perindo yakni para nelayan, pemilik kapal dan pemindang ikan.

Melihat hal tersebut, Pahala mengungkapkan terjadi perbaikan yang signifikan pada PT Perikanan Indonesia. Apalagi setelah PT Perindo dimerger dengan PT Perikanan Nusantara. Pahala berharap PT Perindo dapat mengembangkan pasar-pasar yang berpotensi besar seperti Benoa.

“Merger merupakan perbaikan di sektor pangan khususnya di perikanan dan dapat meningkatkan kontribusi PT Perindo terhadap inklusivitas mitra nelayan dan pemindang,” tuturnya.

Turut berkunjung ke Cabang Benoa, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) Arief Prasetyo Adi sebagai calon ketua Holding Pangan mendukung penuh kegiatan usaha PT Perindo di seluruh cabang termasuk cabang Benoa.

Arief meminta PT Perindo untuk memperkuat pasar ekspor dan mendukung inklusivitas nelayan di seluruh Indonesia. Adapun PT RNI akan mendukung dengan memperkuat sourcing di hulu dan memuluskan jalan ekspor yang akan disinergikan dengan PT PPI (Persero).

“Kita terus melihat peluang yang akan kita kerjakan bersama dengan anggota BUMN Klaster Pangan untuk mengembalikan kejayaan PT Perikanan Indonesia,” ujarnya di Benoa.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Perikanan Indonesia (Persero) Sigit Muhartono menegaskan perseroan tengah bersiap lari kencang pada 2022.

PT Perindo bakal mengokohkan lini bisnis pengolahan dan perdagangan ikan atau fish processing and trading sebagi tumpuan bisnis utama perseroan ke depan.

Hal ini dilakukan usai PT Perikanan Indonesia (Persero) resmi merger dengan PT Perikanan Nusantara (Persero).

Dengan adanya merger, lini bisnis pengolahan dan perdagangan ikan akan dikokohkan sebagai kontribusi utama bisnis perikanan. Pasalnya, sebelum merger, lini bisnis pengolahan dan perdagangan ikan PT Perikanan Indonesia (Persero) masih kurang optimal. Di mana penopang pendapatan sebelum merger adalah lini bisnis kepelabuhanan.

“Ke depan, bisnis BUMN perikanan harus kembali ke marwahnya yaitu berbisnis ikan. Oleh karena itu, pengolahan dan perdagangan akan kami genjot,” katanya di Benoa, Rabu (29/12/2021).

Adapun alur pengolahan ikan akan dimulai dari penangkapan ikan baik penangkapan dari kapal PT Perindo hingga mitra nelayan dan mitra pemilik kapal. Selanjutnya hasil tangkapan ikan akan diolah di Unit Pengolahan Ikan (UPI) dengan antara lain proses ABF (Air Blast Freezer) serta processing lainnya untuk mendapatkan nilai lebih (value added) sebelum disimpan di cold storage untuk selanjutnya diperdagangkan. dan Air Blaze Freezing untuk mendapatkan nilai lebih (added value). Selanjutnya ikan akan diperdagangkan baik domestik atau ekspor.

Dengan memperkuat lini bisnis pengolahan dan perdagangan ikan, hal ini otomatis akan meningatkan peran PT Perindo dalam merangkul nelayan.

Mitra nelayan PT Perindo hingga 2021 tercatat sebanyak 1.400 nelayan. Perseroan menargetkan jumlah mitta nelayan akan tumbuh 10 kali lipat dalam 5 tahun ke depan.

Selama ini, hasil tangkapan ikan PT Perindo maupun serapan dari nelayan sudah diperdagangkan dalam negeri dan luar negeri.

Sepanjang 2021, PT Perikanan Indonesia (Persero) telah melakukan ekspor Ikan kembung sebanyak 150 ton ke Thailand, Whole steam octopus (gurita utuh kukus) sebesar 132 ton ke Amerika Serikat, gurita 30 ton ke Jepang, dan 25 ton ikan black marlin ke Filipina. (Rls)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: